`

Your account has been taken over me, please reset your password, increase the security of your account

`

`

`

script language="JavaScript">
� 2009-2011 hacked by d1cyber

Jumat, 24 April 2009

cerpen anak 2

SEPEDA CANTIK NING

Oleh Suhara

Ning meraih lagi celengannya dari dalam lemari. Dalam hatinya yakin uangnya telah cukup untuk membeli sepeda. Tapi Ning belum bilang siapa-siapa. Sama Mama sekalipun. Gadis kecil itu telah sering membayangkan bisa bermain dengan Fani, Vera dan Tyas tanpa harus meminjam sepeda mereka. Ning tersenyum.

Sesaat Ning tercenung. Hidungnya mencium bau asap bakar sampah dari jendela kamarnya. Itu pasti kerjaan Kak Budi. Tapi baunya lain, pikir Ning penuh curiga, ini bukan bau sampah. Jangan-jangan …

Tadi malam Ning sempat mendengar percakapan Papa dan Mama. Mereka mengeluhkan kemungkinan Kak Budi putus sekolah. Ning menghela napas. Dipeluknya celengan ‘Dora Emon’ itu seperti setahun lalu –saat sebelum akhirnya Ning terpaksa membuka celengannya untuk membantu biaya pengobatan Papa. Sejak kena PHK Papa sering sakit. Sedikit air mata Ning mengalir. “Ini tak boleh terjadi! Aku harus membantu Kakak …” tekat Ning pagi itu. Segera ia keluar rumah memeriksa bak sampah tak jauh dari kamarnya.

“Jangan, Kak …” cegah Ning terbata-bata. Kekhawatirannya benar-benar terjadi.

Kakak Ning tak bergeming. Tangannya terus melempar-lempar lembaran kertas, catatan dan buku-buku pelajaran yang bertumpuk. Dia tak yakin akan ada jalan keluar dari kesulitannya.

“Sudahlah, Ning. Tak perlu disesalkan. Kakak ikhlas putus sekolah. Sekolah memang mahal, perlu banyak uang. Papa sudah tak mampu …”

“Tapi Kakak udah kelas tiga. Sayang. Tinggal setahun lagi.”

“Ya. Tapi gimana lagi?”

Ning menjadi tak bisa berkata-kata. Rasa kasih mendorongnya menyerahkan celengan kesayangannya. Lalu Ning segera memungut buku-buku yang belum terbakar.

Kakak Ning tertegun. Siswa SMA itu tahu betul bagaimana adiknya telah sering berkhayal-khayal menelusuri jalan-jalan dengan sepeda baru. Kali ini niat Ning harus urung lagi. “Tidak, Ning. Biar Kakak akan cari kerja saja …”

Ning menangis keras. Papa dan Mama segera datang mendapati. “Ada apa, sayang? Pagi-pagi kok udah rame?”

Ning terbenam dalam pelukan Mama.

“Terima kasih, sayang …. Kamu selalu baik hati. Mama bangga denganmu.” puji Mama setelah mendengar cerita Kakak.

Pagi itu Ning merasa bahagia walau harapannya telah pupus. Bahkan ketika ia melihat ujung kaos kakinya bolong-bolong, raut mukanya tidak berubah. Ning hanya terdiam sejenak, lalu memakainya.

“Mau kemana, sayang? Kok berpakaian olah raga?” tanya Mama heran.

“Oh, ya, Ma. Hari Minggu ini teman-teman janji ngajak Ning ikutan Gerak Jalan Sehat. Jam delapan tepat kami harus sudah berkumpul di alun-alun.” jelas Ning sebelum pamitan.

Ning berjalan dibawah semarak warna umbul-umbul yang berjajar mengitari alun-alun. Mencari Fani, Vera dan Tyas diantara ratusan orang membuat dia kebingungan. Tiba-tiba terasa ada yang menyentuh pipinya. Ning tersentak. Terdengar suara cekikikan yang hampir tenggelam dalam alunan musik dari panggung hiburan. Ah, itu kan tawa Fani.

“Kamu kok telat, sih?” rutuk Fani, “Nih kuponmu!”

“Kok pakai kupon? Aku nggak bawa uang nih?” jawab Ning lesu.

“Gratis non! Hadiahnya kan dari para donatur dan sponsor” tukas Tyas.

“Iya, Ning. Ini kan dalam rangka Hari Jadi Kota kita. Hadiahnya banyak. Ada TV dari pak dokter, sepeda dari pak camat dan pak kepala desa, VCD player dari pak kapolsek, dispenser air, setrika, kipas angin, jam dinding dan … banyak deh.” sambung Vera.

Sepeda? Ning memandangi panggung hiburan. Tampak dua sepeda ‘cantik’ disamping tumpukan hadiah lain. Ning sempat berdoa dalam hati saat melintasi garis start.

Kawan-kawan Ning tampak kecapekan menelusuri jalan melingkar sejauh lima kilometer. “Kali aja kamu dapat sepeda, Ning.” goda Fani saat melewati garis finish. Ning hanya manggut-manggut, lalu tersenyum.

Matahari mulai terasa panas menyentuh kulit. Anak-anak kelas VI itu segera menyerbu es campur dibawah rimbun pohon beringin. Ning harap-harap cemas ketika panitia mulai membacakan satu per satu nomor kupon peserta. Ada suara huuu..., ada juga riuh tepuk tangan mengiringi setiap pembacaan nomor pemenang.

Mata Ning tak berkedip memandangi potongan kuponnya ketika nomor untuk hadiah sepeda dibacakan panitia.

“Dua, kosong, kosong, lima, tiga, tujuh ..., “ hening sejenak, “ ... sembilan!”

“Huuu ...” empat sekawan itu menyambutnya.

Harapan Ning pupus lagi.

“Hadiah terakhir ini sangat spesial, sepeda ‘cantik’ dari pak kepala desa. Beliau menghadiahkan sebagai doorprize dalam kegiatan kita kali ini.” suara panitia lagi.

Jantung Ning tiba-tiba berdegup kencang. Doorprize ...?

“Sepeda ini … akan menjadi milik … siapa saja … diantara anda … yang dapat menunjukkan … kaos kaki yang bolong … Silakan naik ke pentas!” panitia sengaja melambatkan ucapannya.

Ning tersentak. Semua mata temannya tertuju kepadanya. Ning jadi malu. Dari arah belakang tampak seorang bapak berpacu dengan pemuda kurus berkaos merah berlari menuju panggung.

“Ning, lari ...!!!” seru Fani, Vera dan Tyas serentak. Mereka berdiri memberi semangat pada sahabatnya. Tepuk tangan seisi lapangan menyoraki ‘lomba lari’ itu.

Dalam sekejap ternyata Ning yang muncul pertama di atas panggung. Dengan napas terengah-engah dan malu-malu Ning membuka sepatu dan kaos kakinya. Panitia memperlihatkan kepada seluruh peserta. Tepuk tangan dan gelak tawa terus bergemuruh.

“Pemenangnya adalah …” panitia melirik Ning. Ning menyebut namanya.

“Ningrum …”

Ning tak dapat menyembunyikan rasa haru dan syukurnya. Dengan mata berkaca-kaca ia menerima sepeda ‘cantik’ itu dari bapak kepala desa.

Dan jalan-jalan itu akan segera Ning telusuri bersama teman-temannya. ***

Tidak ada komentar: