`

Your account has been taken over me, please reset your password, increase the security of your account

`

`

`

script language="JavaScript">
� 2009-2011 hacked by d1cyber

Rabu, 06 Mei 2009

Sajak-sajak Oz Qwartin

Langit Jakarta


Tanggah di Senayan

Ditiung koran handapeun langit bayeungyang

Mindoan lampah katukang, demi anak bangsa

Bajoang!


Kuring kapaksa datang

Jeung pangharepan wadia balad pohara

Samakta pangabisa, rebo kanyaho

Ngageuing para guriang


Boa inohong angger darengdek

Di padumukan nu salawasna bener

Sora urang hawar-hawar

Ukur aweuhan


Angin kamarudahan awor jeung heabna metropolitan

Naha andika angger mengpar?

Kuring teu rumasa,

ngatik kabalingeran … .


Langit Jakarta, langit urang

Bayeungyang Jakarta, bayeungyang sarerea

Naha mupusti katideresa?

Terus bajoang!


Samagaha bale rahayat

Sarebu panalek pagaliwota

Nimpalan sora rupa-rupa waditra

Naha aya pamingpin tigin ka jangji?


Tanggah di Senayan

Ditiung koran handapeun langit kaangkuhan

Ngatik anak bangsa, miharep kadariaan

Dunya atikan urang.


Jakarta, 3 Mei 2006

Jumat, 24 April 2009

cerpen anak 2

SEPEDA CANTIK NING

Oleh Suhara

Ning meraih lagi celengannya dari dalam lemari. Dalam hatinya yakin uangnya telah cukup untuk membeli sepeda. Tapi Ning belum bilang siapa-siapa. Sama Mama sekalipun. Gadis kecil itu telah sering membayangkan bisa bermain dengan Fani, Vera dan Tyas tanpa harus meminjam sepeda mereka. Ning tersenyum.

Sesaat Ning tercenung. Hidungnya mencium bau asap bakar sampah dari jendela kamarnya. Itu pasti kerjaan Kak Budi. Tapi baunya lain, pikir Ning penuh curiga, ini bukan bau sampah. Jangan-jangan …

Tadi malam Ning sempat mendengar percakapan Papa dan Mama. Mereka mengeluhkan kemungkinan Kak Budi putus sekolah. Ning menghela napas. Dipeluknya celengan ‘Dora Emon’ itu seperti setahun lalu –saat sebelum akhirnya Ning terpaksa membuka celengannya untuk membantu biaya pengobatan Papa. Sejak kena PHK Papa sering sakit. Sedikit air mata Ning mengalir. “Ini tak boleh terjadi! Aku harus membantu Kakak …” tekat Ning pagi itu. Segera ia keluar rumah memeriksa bak sampah tak jauh dari kamarnya.

“Jangan, Kak …” cegah Ning terbata-bata. Kekhawatirannya benar-benar terjadi.

Kakak Ning tak bergeming. Tangannya terus melempar-lempar lembaran kertas, catatan dan buku-buku pelajaran yang bertumpuk. Dia tak yakin akan ada jalan keluar dari kesulitannya.

“Sudahlah, Ning. Tak perlu disesalkan. Kakak ikhlas putus sekolah. Sekolah memang mahal, perlu banyak uang. Papa sudah tak mampu …”

“Tapi Kakak udah kelas tiga. Sayang. Tinggal setahun lagi.”

“Ya. Tapi gimana lagi?”

Ning menjadi tak bisa berkata-kata. Rasa kasih mendorongnya menyerahkan celengan kesayangannya. Lalu Ning segera memungut buku-buku yang belum terbakar.

Kakak Ning tertegun. Siswa SMA itu tahu betul bagaimana adiknya telah sering berkhayal-khayal menelusuri jalan-jalan dengan sepeda baru. Kali ini niat Ning harus urung lagi. “Tidak, Ning. Biar Kakak akan cari kerja saja …”

Ning menangis keras. Papa dan Mama segera datang mendapati. “Ada apa, sayang? Pagi-pagi kok udah rame?”

Ning terbenam dalam pelukan Mama.

“Terima kasih, sayang …. Kamu selalu baik hati. Mama bangga denganmu.” puji Mama setelah mendengar cerita Kakak.

Pagi itu Ning merasa bahagia walau harapannya telah pupus. Bahkan ketika ia melihat ujung kaos kakinya bolong-bolong, raut mukanya tidak berubah. Ning hanya terdiam sejenak, lalu memakainya.

“Mau kemana, sayang? Kok berpakaian olah raga?” tanya Mama heran.

“Oh, ya, Ma. Hari Minggu ini teman-teman janji ngajak Ning ikutan Gerak Jalan Sehat. Jam delapan tepat kami harus sudah berkumpul di alun-alun.” jelas Ning sebelum pamitan.

Ning berjalan dibawah semarak warna umbul-umbul yang berjajar mengitari alun-alun. Mencari Fani, Vera dan Tyas diantara ratusan orang membuat dia kebingungan. Tiba-tiba terasa ada yang menyentuh pipinya. Ning tersentak. Terdengar suara cekikikan yang hampir tenggelam dalam alunan musik dari panggung hiburan. Ah, itu kan tawa Fani.

“Kamu kok telat, sih?” rutuk Fani, “Nih kuponmu!”

“Kok pakai kupon? Aku nggak bawa uang nih?” jawab Ning lesu.

“Gratis non! Hadiahnya kan dari para donatur dan sponsor” tukas Tyas.

“Iya, Ning. Ini kan dalam rangka Hari Jadi Kota kita. Hadiahnya banyak. Ada TV dari pak dokter, sepeda dari pak camat dan pak kepala desa, VCD player dari pak kapolsek, dispenser air, setrika, kipas angin, jam dinding dan … banyak deh.” sambung Vera.

Sepeda? Ning memandangi panggung hiburan. Tampak dua sepeda ‘cantik’ disamping tumpukan hadiah lain. Ning sempat berdoa dalam hati saat melintasi garis start.

Kawan-kawan Ning tampak kecapekan menelusuri jalan melingkar sejauh lima kilometer. “Kali aja kamu dapat sepeda, Ning.” goda Fani saat melewati garis finish. Ning hanya manggut-manggut, lalu tersenyum.

Matahari mulai terasa panas menyentuh kulit. Anak-anak kelas VI itu segera menyerbu es campur dibawah rimbun pohon beringin. Ning harap-harap cemas ketika panitia mulai membacakan satu per satu nomor kupon peserta. Ada suara huuu..., ada juga riuh tepuk tangan mengiringi setiap pembacaan nomor pemenang.

Mata Ning tak berkedip memandangi potongan kuponnya ketika nomor untuk hadiah sepeda dibacakan panitia.

“Dua, kosong, kosong, lima, tiga, tujuh ..., “ hening sejenak, “ ... sembilan!”

“Huuu ...” empat sekawan itu menyambutnya.

Harapan Ning pupus lagi.

“Hadiah terakhir ini sangat spesial, sepeda ‘cantik’ dari pak kepala desa. Beliau menghadiahkan sebagai doorprize dalam kegiatan kita kali ini.” suara panitia lagi.

Jantung Ning tiba-tiba berdegup kencang. Doorprize ...?

“Sepeda ini … akan menjadi milik … siapa saja … diantara anda … yang dapat menunjukkan … kaos kaki yang bolong … Silakan naik ke pentas!” panitia sengaja melambatkan ucapannya.

Ning tersentak. Semua mata temannya tertuju kepadanya. Ning jadi malu. Dari arah belakang tampak seorang bapak berpacu dengan pemuda kurus berkaos merah berlari menuju panggung.

“Ning, lari ...!!!” seru Fani, Vera dan Tyas serentak. Mereka berdiri memberi semangat pada sahabatnya. Tepuk tangan seisi lapangan menyoraki ‘lomba lari’ itu.

Dalam sekejap ternyata Ning yang muncul pertama di atas panggung. Dengan napas terengah-engah dan malu-malu Ning membuka sepatu dan kaos kakinya. Panitia memperlihatkan kepada seluruh peserta. Tepuk tangan dan gelak tawa terus bergemuruh.

“Pemenangnya adalah …” panitia melirik Ning. Ning menyebut namanya.

“Ningrum …”

Ning tak dapat menyembunyikan rasa haru dan syukurnya. Dengan mata berkaca-kaca ia menerima sepeda ‘cantik’ itu dari bapak kepala desa.

Dan jalan-jalan itu akan segera Ning telusuri bersama teman-temannya. ***

cerpen anak 1

SAHABAT YANG SEBENARNYA

oleh : Suhara
(dimuat di majalah BOBO No. 27 tahun XXXI)

Hari beranjak siang, udara sangat cerah. Sayang Dzulpan tidak dapat membantu pekerjaan ayahnya seperti biasa, membuat paving block. Kali ini dia punya janji dengan kedua sahabatnya, Dudung dan Candra. Mereka berencana untuk mengerjakan PR matematika bersama.

“Tepat juga janji kalian,” Dzulpan menyambut dengan penuh kehangatan “Mari masuk, mau minum apa?”

“Ah, kita kan bukan tamu!, tapi kalau makan rambutan kayaknya oke juga ...,” Dudung menunjuk pohon rambutan yang berbuah lebat di halaman rumah Dzulpan. Merah, jingga, kuning dan hijau, sungguh perpaduan warna buah yang mengagumkan.

“Mangganya juga besar-besar, boleh juga tuh ...,” Candra menimpali.

“Ya, tentu saja. Ibuku bahkan sudah menyiapkan mangga yang matang untuk kalian. Kalau rambutan sih, mending petik sendiri aja!”

Oh, sungguh siang hari yang menyenangkan. Gunung Ciremai tampak lebih indah dari biasanya. Dzulpan teman yang ramah dan bersahabat. Mama Dzulpan juga orangnya baik. Mereka sangat memperhatikan kami, celoteh Dudung dalam hati.

“Kita mulai saja ya, mumpung masih segar?” Dzulpan hendak mengambil buku pelajaran.

“Dari tadi juga aku siap!” tukas Candra.

“Nanti dulu, Dra! PR sih soal gampang. Aku punya cerita. Tadi malam aku menangkap laron cukup banyak. Kata orang laron sangat baik untuk umpan memancing. Nah, biar lebih asyik, gimana kalau kita mancing dulu?”

Huh, ‘lagu’ lama, kalau diajak belajar selalu ada alasan, ini yang nggak kusuka dari Dudung, rutuk Dzulpan. “Ide yang bagus, tapi tidak tepat waktu! Kapan kita membahas PR?”

“Memancing kan tidak bisa sebentar, Dung!. Jangan-jangan PR kita terbengkalai, Pak Haris bisa marah besok ...,” Candra membantu membendung rencana Dudung.

“Ini umpannya lain, Dra! Ikan akan galak pada laron. Lagi pula kolamku ikannya banyak dan besar-besar. Jadi sebentar saja kita pasti sudah dapat ikan. Kita bisa langsung membakarnya disana ... . Selain itu dikolamku dibangun saung peristirahatan, kita bisa mengerjakan PR disana, oke?”

Tidak ada lagi yang berminat menahan Dudung, percuma saja. Keduanya mengikuti hasrat si keras kepala itu.

“Baiklah, aku hanya punya satu pancingan. Kau harus carikan pancingan untuk Dzulpan dan menyiapkan nasi serta bumbu-bumbu!”

“Tidak masalah ...”

Satu jam telah berlalu, tak satu pun ikan yang mereka dapatkan. Dzulpan berpikir, jangan-jangan tidak ada ikan di kolam ini! Aku harus dapat memastikan! Maka dilemparnya segenggam laron ke tengah kolam, dan ..., ah, ternyata Dudung tidak berbohong; ikannya banyak dan besar-besar. Ada mujair, tawes, nilem, gurami dan ikan mas saling berebut laron. Aha ..., sungguh pemandangan menggairahkan!. Dzulpan memperbaiki posisi duduknya di tembok pinggir kolam.

Aku tahu sekarang ..., gumam Dzulpan kemudian. Ditariknya tali pancing dan ... sret! bagian ujungnya dipotong. Diambilnya bandul timah dan disimpannya di saku celana. Lalu disiapkan satu ekor laron yang masih bersayap pada ujung mata pancing dan dilemparkannya ke tengah kolam. Dibiarkannya umpan mengambang di permukaan air, lalu dia melempar lagi segenggam laron di dekat umpan tadi. Dan ... hanya dalam beberapa detik, tiba-tiba wus ... wus ... tali pancingnya bergerak kesana-kemari dengan cepat dan dahsyat. “Hore ... aku dapat ...,” teriaknya girang. Kedua temannya terperangah melihat ikan tawes sebesar lima jari tangan mereka bergelantungan diujung tali pancing Dzulpan.

“Wow ..., tarikan yang luar biasa, aku suka itu, gimana dong caranya ...?” teriak Dudung di seberang kolam.

“Ah, mudah saja, cukup dengan sedikit berpikir.” Dzulpan tersenyum. Tali pancingnya telah diseret-seret lagi oleh ikan tawes yang hampir sama. “Ayo kita bakar!”

Dudung dan Candra mengikuti cara Dzulpan. Delapan ikan tawes telah mereka dapatkan dalam waktu yang tidak lama. Lantas ketiga anak kelas V itu bekerja sama saling membantu membakar ikan-ikan hasil pancingannya. “Makan besaaaarrr ...,” teriak Dudung.

Selesai makan mereka merasa puas. Tapi ada satu yang mengganjal pikiran Dzulpan; PR matematika!

“Ayo ambil buku PR masing-masing!” seru Dzulpan dari dalam saung.

Dudung tersentak, dilemparkannya pandangan ke langit. O, sepertinya cuaca kurang bersahabat, ucap Dudung dalam hati. Langit hitam. Hujan mulai turun dibarengi angin dingin hingga air hujan menjangkau ketiganya dibawah atap saung yang tidak berdinding.

“Sekarang begini, Dzul. Hujan pasti lama, seperti kemarin sore, maka PR-nya kamu kerjakan saja dirumah. Biar aku contek besok pagi-pagi sebelum upacara. Ya, kan, Dra?”

Candra hanya mengangkat bahu.

Tanpa kesepakatan akhir, ketiganya berhamburan menuju rumah masing-masing dengan terlebih dahulu mencari daun pisang untuk memayungi badan. Dzulpan menarik napas panjang. Ternyata si keras kepala itu semakin malas berpikir. Kasihan dia ..., keluhnya. “Besok aku harus cari akal.”

Dudung baru saja mengambil buku latihan matematika dari tangan Dzulpan ketika bel upacara berdentang, tak satu pun PR sempat dicontek. Pelajaran pertama setelah upacara tentu saja matematika. Pak Haris mulai berkeliling memeriksa PR. Dudung, dalam sekejap sudah berdiri di depan kelas dan segera mendapat hukuman dari Pak Haris. Dzulpan dan Candra iba juga melihat sahabatnya di saat seperti ini, walau mereka juga yang sengaja sepakat untuk datang terlambat sebagaimana saran ayah Dzulpan saat mereka berdua mengerjakan PR tadi malam.

Mata Dudung menyambar kedua sahabatnya yang duduk di bangku ketiga dari depan. Rasa kecewa dan marah tampak pada raut wajahnya. “Persahabatan telah berakhir ...!” rutuknya dalam hati.

“Ambil buku latihanmu! Kerjakan PR-mu diluar!” suara Pak Haris terasa menggelegar di telinga Dudung.

Dengan rasa malu Dudung keluar ruangan menuruti perintah pak guru. Sialan, anak-anak kelas IV sedang olah raga lagi. Aduuuh semua mata rasanya memandangiku, gerutu Dudung dalam hati. Dibukanya buku latihan. Ah, alangkah terkejutnya!, ternyata buku itu bukan miliknya!, melainkan milik Dzulpan pemberiannya dulu awal semester, kebetulan kapernya sama persis. Dudung panik, pikirannya kacau. Tiba-tiba tanpa sadar ia membuka halaman terakhir buku yang ia dipegang dan membacanya ...

Pesan Papa malam ini :

“Mestinya kamu jelaskan kepada Dudung, bagaimana cara menyelesaikan soal-soal matematika itu. Jika kamu selalu memberi contekan, artinya kamu tidak sayang kepada dia. Kamu justru membuat dia semakin malas berpikir. Dudung akan selalu dalam kesulitan selamanya. Kamu bukan sahabat bagi dia. Mulai besok pagi, jangan lagi memberi contekan. Jadilah sahabat yang sebenarnya”

Dudung menghela napas. Entah kenapa tiba-tiba dia merasa sangat rindu pada kedua sahabatnya, padahal keduanya ada di dekatnya, di dalam ruangan kelas .***

Kamis, 23 April 2009

Dongeng

PANGERAN KEPITING PUTIH

Di kerajaan Berantah ada seorang pangeran yang bernama Khairun. Khairun sangat tampan, kulitnya putih dan berhidung mancung. Namun, sayang sekali sifatnya pemalas, pemarah dan suka mengejek orang. Akibatnya para pelayan merasa takut dan segan jika bertemu pangeran. Tentu saja suasana di istana terasa tidak menyenangkan.
Raja dan permaisuri sering menasihatinya, namun pangeran belum juga berubah sikap. Bahkan Raja pernah mendatangkan seorang ahli untuk menasihati dan membimbing pangeran, namun belum juga membuahkan hasil.
Suatu hari pangeran pergi ke taman untuk memancing di kolam taman. Dua pelayan, Abid dan Sahaya, ditugaskan untuk menemaninya. Dengan segan mereka membuntuti pangeran membawa semua peralatan memancing. Pangeran lalu duduk di sebuah bangku di pinggir kolam.
“Abid … Lekas kemari! Mana pancingnya ….?” pinta sang pangeran.
“Ya Tuan, kami segera datang,” jawab Abid.
“Ayo cepat! Jalan kayak kepiting putih saja … Kapan bisa sampai?!” kata-kata kasar mulai keluar dari mulut sang pangeran.
“Silakan Tuan, sudah saya siapkan …” Abid menyerahkan pancingan.
“Sini! Dasar ‘Kepiting Putih’, selalu lamban! Mana umpannya?” tanya pangeran.
“Ampun Tuan, bukankah tadi Tuan yang bawa?” jawab Abid gemetar.
“O ya, tadi kutitipkan pada Sahaya. Hai ‘Tahi Ayam’ … sini kamu! Mana umpan yang tadi kutitipkan?” tanya pangeran.
Dengan membungkuk hormat Sahaya menyerahkan umpan untuk memancing. Sebenarnya Sahaya enggan berlaku hormat pada orang sekasar itu. Pangeran selalu memanggilnya ‘tahi ayam’, mungkin karena dulu Sahaya pernah cerita bahwa dirinya pernah bekerja di peternakan sebelum mengabdi di istana. Sebutan itu terasa menyakitkan.
Satu jam telah berlalu, namun pangeran belum juga mendapatkan ikan.
Di tembok pinggir kolam, di bawah bangku pangeran ternyata tinggal keluarga kepiting putih. Mereka terperangah mendengar nama mereka disebut-sebut.
“Hai dengar, kita dijadikan olokan atas manusia yang tidak cekatan,” kata seekor kepiting muda kepada teman-temannya, ”kita harus mengadakan perlawanan!”
Semua kepiting tertawa terbahak-bahak mendengar ajakan teman mudanya itu. Kepiting yang lebih tua lalu menjawab, “sejak dulu paman sering mendengar olokan itu, namun kami tidak dapat membalasnya.”
“Kita telah dibekali Tuhan dua tangan yang kuat dan tajam untuk membela diri. Bagaimana jika kita minta bantuan saudara-saudara yang lain, misalnya semut, kupu-kupu dan … tahi ayam?”
Sekali lagi kawanan kepiting itu tertawa terpingkal-pingkal.
“Mana mungkin tahi ayam bisa diajak melawan pangeran, berjalan saja tidak bisa?” sergah kepiting muda yang lain.
“Tapi kita harus memberi pelajaran! Sikap pangeran sudah keterlaluan. Jika dibiarkan bagaimana nasib generasi muda? Kerajaan ini bisa hancur dan kita pun akan kena akibatnya…”
Suasana jadi hening, tak seekor pun kepiting yang berbicara. Hanya suara ombak kecil yang memecah tepian kolam. Tiba-tiba muncul seekor paman kepiting yang lain dan melapor, “aku baru saja menasihati ikan-ikan agar tidak tergoda umpan, karena yang memancing adalah si pangeran jelek itu. Lalu bagaimana rencana kita selanjutnya kepiting muda?”
“Kita temui dulu sudara-saudara kita. Di teras istana semut hitam sedang bergotong-royong mengangkut makanan. Kupu-kupu juga banyak yang bermain di taman bunga. Saya kira mereka mau membantu kita,” jelas kepiting muda.
Keduanya pergi setelah pangeran dan kedua pelayan kembali ke istana. Semut hitam menyambut gembira rencana mereka, karena selama ini namanya pun dijadikan olokan pada Bi Yam, pelayan istana yang bertubuh kecil dan berkulit hitam. Sementara kupu-kupu pun siap mendukung. Setelah berbagi tugas, mereka berpisah hingga waktu yang telah dijanjikan.
“Idemu boleh juga, kepiting muda!” puji sang paman.
Tengah malam istana telah sepi. Raja dan permaisuri telah beristirahat. Demikian pula Pangeran Khairun, kamarnya tampak redup hanya diterangi sebatang lilin. Tiba-tiba seekor kupu-kupu menyambar lilin yang tengah menyala. Serta-merta kamar pangeran menjadi gelap gulita. Pangeran Khairun terbangun seketika. Ah, lilin sialan! gerutunya. Tangannya meraba-raba permukaan meja. Dia ingat tadi malam menyimpan korek api di sana. Terang saja, pangeran segera mendapatkannya. Tapi pangeran sedikit heran, kok ada benda lunak melekat di jari? Rasa penasaran mendorong ia mencium jari tangannya. Dan … Fuihh! Tahi ayam sialan! Siapa yang naruh tahi ayam di korek api? gerutunya lagi. Karena merasa jijik pangeran menjadi panik. Dengan bergegas ia menuju ruang makan untuk mencuci tangan. Dia ingat meja makan pasti belum dibersihkan para pelayan karena ia makan terlalu malam. Namun … Brak! Badan pangeran menabrak kursi kamar. Pangeran terjatuh dan mengerang kesakitan.
Dengan susah payah pangeran mendapatkan meja makan. Tangannya meraba-raba permukaan meja. Hatinya lega karena mangkuk cuci tangan masih ada. Dalam kegelapan dia masukkan tangannya untuk menghilangkan bau tak sedap itu. Namun ketika tangannya menyentuh air, KREK! KREK! Seperti ada yang menggigit begitu keras.
“Aduh, apa ini? Ampun … Sakit … Ampun … Tolong …,” pangeran terjatuh lagi.
Rintihan pangeran membangunkan seisi istana. Para pelayan segera memeriksa ruang makan sambil menyalakan lampu. Pangeran tersentak, dalam keremangan tampak dua ekor kepiting putih menjepit jari tangannya hingga berdarah.
“Ampun kepiting putih, ampun … Ampun semut hitam, ampun … Ampun tahi ayam, ampun …,” rintihan pangeran begitu memilukan.
“Hai, ‘Kepiting Putih’! ‘Tahi Ayam’! Pangeran minta ampun pada kita …,” kata Bi Yam, si ‘Semut Hitam’, membangunkan Abid dan Sahaya.
“Maafkan aku Abid, Sahaya … Bi Yam … Maafkan aku …” isak pangeran.
Sejak saat itu Pangeran Khairun menyesali kebiasaan buruknya. Pangeran menyadari kekeliruannya dalam memperlakukan para pelayan istana. Baginda Raja sangat bahagia. Sebagai rasa syukur, beliau menyebut putranya sebagai ‘Pangeran Kepiting Putih’. Segenap warga istana dan seluruh rakyat kerajaan Berantah menyambut gembira. Suasana di istana menjadi sangat menyenangkan. Bagaimana suasana di tembok pinggir kolam? Mereka sibuk menyambut kedatangan para pahlawan! (diceritakan oleh Suhara).

Carpon

LIS, AYEUNA … .
Carita pondok Suhara

“Saha nu hoyong pisah … ” pokna mimiti lewa-lewe.
“Kanyataan memang mindeng mengpar tina implengan, Lis!” tembal Asep ngarerema buah hatena nu mimiti ramasbas.
“Lis alim diadu-adu masalah cinta, Kang …. Lis hoyong nangtukeun pilihan sorangan!” Cimata nu murubut katadah ku sajadah jeung mukena nu dikeukeuweuk. Leungeun kencana ngaragamang kana lampu tempel luhureun meja. Ter diputerkeun ngarah beungeutna kapoekan.
“Tapi Akang oge alim ngajaheutkeun manah sepuh Lis. Akang sieun janten mamala di kulawargi Lis ….”
“Akang nyaah ka Lilis?”
“Langkung ti nyaah ….”
Najan dina remeng-remeng kalangkang kap lampu kageulisan Lilis karasa bengras jero dadana. Cipanon nu maseuhan pipi nambahan tingtrim atina. Lilis … asih anjeun wuwuh wening, cinta anjeun estu sajati. Hanjakal, Lis baris dijodokeun ka Kang Dudung, mahasiswa tingkat tilu di Jakarta. Padahal aing nu tiheula wawuh jeung hatena … gerentes Asep.
Sora adzan isya ngagebah nu keur palid dina rarasaan sorangan.
“Bade ka masjid deui, Lis?” pokna nyimbutan kareuwas.
“Henteu, ah. Pulang. Ke sakedap deui ngarah pas sareng bubaran nu ti masjid”
“Sok ngabadung …”
“Sakali-sakali.”
Duanana amitan ka pribumi nu ti tadi ngaringkeb di kamarna. Duka ngapalkeun duka nyakcak. “Hayu, Tet, pulang heula nya? Pinjem Fisika atuh, isuk deuk ulangan.”
“Heug! Urang oge tadi jam terahir, harese …” tembal Teti sobat Lilis tibarang SD.
Ngalengkah bareng handapeun payung karasa sejen endahna. Hujan nu titadi ngaririncik nambahan betah nu keur kasmaran, pageye-geye silih talingakeun bisi tikosewad. Duanana pisah di jalan cagak nu mongkleng karungkupan jangjang peuting.

***
“Asep,” nyeh seuri.
“Mida,” tembalna, imut manis bari ngabedol ranggeumanana tina ramo Asep. Padahal papadana ge geus pada apal, tapi ukur semet ngaran, da ka jirimna mah karek wawuh harita.
“Apal Akang oge!”
“Abdi oge terang!”
“Ti saha?”
“Ti Teh Dewi rerencangan di Puskes.”
“Akang oge terang ti Teh Dewi; istri Pa Agus, rerencangan di sakola.”
“Kutan …? mani seragam!” pokna darehdeh, “mangga linggih!”
“Tos lami damel di Puskes teh?”
“Nembe oge dua sasih, dupi Akang?” malik nanya bari mairan cai.
“Nembe dua taun ….”
“Sanes nembe atuh dua taun mah, senior!”
Teu nyalahan geuning omongan Teh Dewi teh. Mida memang manis! Mida kewes, pantes! Hatena ngagerentes.
“Eh, moal aya nu apel ieu teh?” panalek jugjugan mimiti kaluar, api-api teu nyaho.
“Moal aya nu apel ka dieu mah, teu aya nu kersaeun!”
“Kutan? kumaha upami Akang apel?”
“Ah, teu kedah nyesahkeun, sawios!”
“Teu sesah teu sing. Malih mah atoh we nu aya”
“Biasa pameget mah … .”
“Biasa kumaha?”
“Gombal!”
“Akang serius, Mid ….”
“Mida oge serius ….”
“Teu percanten?”
“Sanes teu percanten. Mida mah sok sieun ….”
“Akang serius, Mid … . Mida gaduh masa lalu?”
Sirahna Mida unggeuk. Teuteupanana jadi ceuleuyeu.
“Mida sieun mangsa kapengker karandapan deui….”
“Kuciwa?”
Sirahna unggeuk deui.
“Akang oge sami, Mid. Sieun….”
“Gagal?”
“Ya!” tembalna handap.
Gep ramo nu lucir lencop teh dicekel. Dianyamkeun jeung ramona sorangan. Mida teu sing nolak. Teup paadu teuteup. Aya deudeuh nu ngunial dina dasar ati papadana. Aya asih nu seseleket sumeleket dina lolongkrang hate duanana. Karasa na dirina aya geter nu geus lawas ilang.
“Urang pungkas kegagalan masa lalu, oke?”
Sakali deui sirah Mida unggeuk.
“Mangga ngaleueut ….”

***

Celengok budak teh dicium deui. Hate Asep beuki ngaleketey. Yatim geuning Euis teh! Mamah tos mulih geulis…. Cimatana katangen ngembeng. Hirup karasa leungiteun udagan. Kabagjaan nu ligar tacan lana kiwari geus ampih deui, dipulut ku anu ngaturna. Hatena neungteuinganan, nganaha-naha kana nasib nu karandapan; kana lalakon hirup nu manjing kana dirina. Komo lamun mireungeuh anakna leumpang muru lawang kamar, bari ngagegero indungna, Mamah …. Mamaaaahhh …. Hatena runtag. Cocoba karasa taya kendatna.
Opat taun katukang manehna nyandingkeun Mida; wanoja nu sanggup ngahudangkeun deui sumanget hirupna sanggeus dua taun katalangsara alatan kudu pisah jeung kakasihna.
Teu bisa mungkir memang, lamun hatena teu sanggup pikeun miceun hiji ngaran nu geus nanceb dina atina salila tujuh taun; Lilis! Lilis nu disabaran ti barang sakola di SMP ahirna memang teu kapimilik. Najan geus turun amis cau, manjing dewasa tur lulus sakola di paguron luhur. Kolotna taya riuk-riuk pikeun do’a ngahijikeun anakna ka manehna.
Mida nu dipupusti pikeun bisa ngaganti Lilis dina hatena kiwari geus ninggalkeun. Mangsa manehna mimiti narima kana kaayaan tur sanggup leumpang nurutkeun jalan nu sakuduna disorang. Mangsa atina bisa narima asih wanoja sejen, sanggeus sababaraha kali bolay. Mida nu ihlas, Mida nu ngarti kana kaayaan dirina nyatana teu dibere lana dina marengan hirupna.
“Pa … hoyong ka mamah ….” anakna ngarenghik deui hese dibebenjokeunana.
“Yu, urang ka mamah, yu …, yu geulis….” Yeyet, adina, nu sok hideng ngarandeh, ngajewang budak tina keukeupanana.
Sup sirahna diasupkeun kana sela-sela leungeun nu sidakep luhureun tuurna. Karasa aya nu haneut nyuruluk kana pipina. Dina hihideung matana ngalangkang deui Lilis nu kungsi diteken sangkan ilang tina hatena. Lilis nu geus ngarebut poe-poe endahna; beulahan jiwana. Lilis nu panggih deui dina seminar Profesionalisme Guru, kiwari masih keneh hirup nyorangan; Lilis nu angger manis …..
Hatena galecok deui.
“Tapi sepuh Lilis pageuh … .”
“Lilis oge tiasa langkung pageuh, Kang!”
“Lilis sanggem sabarna?”
“Insya Allah.”
“Dugi ka iraha?”
“Nyanghulu ngaler!”
Ngajelengeng deui kana ceulina jangji buah hatena nu dikedalkeun duapuluh opat taun katukang mangsa sakola di SMA. Sakali-sakali beungeutna ditanggahkeun. Karasa teuteupanana deukeut. Surem. Sirahna karasa beurat. Cisanggarung nu ti tadi seah kiwari kakara kadenge. Langit nu ceudeum nambahan poek hatena.
“Naha bet mupusti tresna, Lis?”
“Cinta Lilis hamo bisa dibagi-bagi, ukur keur saurang.”
“Ulah teuing nyiksa diri, Lis ….”
“Batan hirup munafik, leuwih kasiksa….”
“Mun Akang teu sanggup sabarna …?”
“Lis ngantos duda Akang ….”
Sakali ieu karasa sirahna beuki beurat. Luareun kasadaranana leungeunna ngaragamang kana buukna nu pasiksak. Siku duanana diteueulkeun kana tuurna. Ramona hideng ngajambretan nu pasiksak. Teuing sabaraha hiji kuntung nu patulayah gigireunana. Tempat nu welasan taun ka tukang mindeng dipake ngumbar lamunan kiwari deukeut deui jeung hatena. Jung nangtung. Leumpang rampohpoy mapay-mapay sisi walungan lebakeun imahna. Lis, hampura Akang, Akang duda …. Tina geter biwirna aya sora kacindekan anyar: Lis, ayeuna ….