SAHABAT YANG SEBENARNYA
oleh : Suhara
(dimuat di majalah BOBO No. 27 tahun XXXI)
Hari beranjak siang, udara sangat cerah. Sayang Dzulpan tidak dapat membantu pekerjaan ayahnya seperti biasa, membuat paving block. Kali ini dia punya janji dengan kedua sahabatnya, Dudung dan Candra. Mereka berencana untuk mengerjakan PR matematika bersama.
“Tepat juga janji kalian,” Dzulpan menyambut dengan penuh kehangatan “Mari masuk, mau minum apa?”
“Ah, kita kan bukan tamu!, tapi kalau makan rambutan kayaknya oke juga ...,” Dudung menunjuk pohon rambutan yang berbuah lebat di halaman rumah Dzulpan. Merah, jingga, kuning dan hijau, sungguh perpaduan warna buah yang mengagumkan.
“Mangganya juga besar-besar, boleh juga tuh ...,” Candra menimpali.
“Ya, tentu saja. Ibuku bahkan sudah menyiapkan mangga yang matang untuk kalian. Kalau rambutan sih, mending petik sendiri aja!”
Oh, sungguh siang hari yang menyenangkan. Gunung Ciremai tampak lebih indah dari biasanya. Dzulpan teman yang ramah dan bersahabat. Mama Dzulpan juga orangnya baik. Mereka sangat memperhatikan kami, celoteh Dudung dalam hati.
“Kita mulai saja ya, mumpung masih segar?” Dzulpan hendak mengambil buku pelajaran.
“Dari tadi juga aku siap!” tukas Candra.
“Nanti dulu, Dra! PR sih soal gampang. Aku punya cerita. Tadi malam aku menangkap laron cukup banyak. Kata orang laron sangat baik untuk umpan memancing. Nah, biar lebih asyik, gimana kalau kita mancing dulu?”
Huh, ‘lagu’ lama, kalau diajak belajar selalu ada alasan, ini yang nggak kusuka dari Dudung, rutuk Dzulpan. “Ide yang bagus, tapi tidak tepat waktu! Kapan kita membahas PR?”
“Memancing kan tidak bisa sebentar, Dung!. Jangan-jangan PR kita terbengkalai, Pak Haris bisa marah besok ...,” Candra membantu membendung rencana Dudung.
“Ini umpannya lain, Dra! Ikan akan galak pada laron. Lagi pula kolamku ikannya banyak dan besar-besar. Jadi sebentar saja kita pasti sudah dapat ikan. Kita bisa langsung membakarnya disana ... . Selain itu dikolamku dibangun saung peristirahatan, kita bisa mengerjakan PR disana, oke?”
Tidak ada lagi yang berminat menahan Dudung, percuma saja. Keduanya mengikuti hasrat si keras kepala itu.
“Baiklah, aku hanya punya satu pancingan. Kau harus carikan pancingan untuk Dzulpan dan menyiapkan nasi serta bumbu-bumbu!”
“Tidak masalah ...”
Satu jam telah berlalu, tak satu pun ikan yang mereka dapatkan. Dzulpan berpikir, jangan-jangan tidak ada ikan di kolam ini! Aku harus dapat memastikan! Maka dilemparnya segenggam laron ke tengah kolam, dan ..., ah, ternyata Dudung tidak berbohong; ikannya banyak dan besar-besar. Ada mujair, tawes, nilem, gurami dan ikan mas saling berebut laron. Aha ..., sungguh pemandangan menggairahkan!. Dzulpan memperbaiki posisi duduknya di tembok pinggir kolam.
Aku tahu sekarang ..., gumam Dzulpan kemudian. Ditariknya tali pancing dan ... sret! bagian ujungnya dipotong. Diambilnya bandul timah dan disimpannya di saku celana. Lalu disiapkan satu ekor laron yang masih bersayap pada ujung mata pancing dan dilemparkannya ke tengah kolam. Dibiarkannya umpan mengambang di permukaan air, lalu dia melempar lagi segenggam laron di dekat umpan tadi. Dan ... hanya dalam beberapa detik, tiba-tiba wus ... wus ... tali pancingnya bergerak kesana-kemari dengan cepat dan dahsyat. “Hore ... aku dapat ...,” teriaknya girang. Kedua temannya terperangah melihat ikan tawes sebesar lima jari tangan mereka bergelantungan diujung tali pancing Dzulpan.
“Wow ..., tarikan yang luar biasa, aku suka itu, gimana dong caranya ...?” teriak Dudung di seberang kolam.
“Ah, mudah saja, cukup dengan sedikit berpikir.” Dzulpan tersenyum. Tali pancingnya telah diseret-seret lagi oleh ikan tawes yang hampir sama. “Ayo kita bakar!”
Dudung dan Candra mengikuti cara Dzulpan. Delapan ikan tawes telah mereka dapatkan dalam waktu yang tidak lama. Lantas ketiga anak kelas V itu bekerja sama saling membantu membakar ikan-ikan hasil pancingannya. “Makan besaaaarrr ...,” teriak Dudung.
Selesai makan mereka merasa puas. Tapi ada satu yang mengganjal pikiran Dzulpan; PR matematika!
“Ayo ambil buku PR masing-masing!” seru Dzulpan dari dalam saung.
Dudung tersentak, dilemparkannya pandangan ke langit. O, sepertinya cuaca kurang bersahabat, ucap Dudung dalam hati. Langit hitam. Hujan mulai turun dibarengi angin dingin hingga air hujan menjangkau ketiganya dibawah atap saung yang tidak berdinding.
“Sekarang begini, Dzul. Hujan pasti lama, seperti kemarin sore, maka PR-nya kamu kerjakan saja dirumah. Biar aku contek besok pagi-pagi sebelum upacara. Ya, kan, Dra?”
Candra hanya mengangkat bahu.
Tanpa kesepakatan akhir, ketiganya berhamburan menuju rumah masing-masing dengan terlebih dahulu mencari daun pisang untuk memayungi badan. Dzulpan menarik napas panjang. Ternyata si keras kepala itu semakin malas berpikir. Kasihan dia ..., keluhnya. “Besok aku harus cari akal.”
Dudung baru saja mengambil buku latihan matematika dari tangan Dzulpan ketika bel upacara berdentang, tak satu pun PR sempat dicontek. Pelajaran pertama setelah upacara tentu saja matematika. Pak Haris mulai berkeliling memeriksa PR. Dudung, dalam sekejap sudah berdiri di depan kelas dan segera mendapat hukuman dari Pak Haris. Dzulpan dan Candra iba juga melihat sahabatnya di saat seperti ini, walau mereka juga yang sengaja sepakat untuk datang terlambat sebagaimana saran ayah Dzulpan saat mereka berdua mengerjakan PR tadi malam.
Mata Dudung menyambar kedua sahabatnya yang duduk di bangku ketiga dari depan. Rasa kecewa dan marah tampak pada raut wajahnya. “Persahabatan telah berakhir ...!” rutuknya dalam hati.
“Ambil buku latihanmu! Kerjakan PR-mu diluar!” suara Pak Haris terasa menggelegar di telinga Dudung.
Dengan rasa malu Dudung keluar ruangan menuruti perintah pak guru. Sialan, anak-anak kelas IV sedang olah raga lagi. Aduuuh semua mata rasanya memandangiku, gerutu Dudung dalam hati. Dibukanya buku latihan. Ah, alangkah terkejutnya!, ternyata buku itu bukan miliknya!, melainkan milik Dzulpan pemberiannya dulu awal semester, kebetulan kapernya sama persis. Dudung panik, pikirannya kacau. Tiba-tiba tanpa sadar ia membuka halaman terakhir buku yang ia dipegang dan membacanya ...
Pesan Papa malam ini :
“Mestinya kamu jelaskan kepada Dudung, bagaimana cara menyelesaikan soal-soal matematika itu. Jika kamu selalu memberi contekan, artinya kamu tidak sayang kepada dia. Kamu justru membuat dia semakin malas berpikir. Dudung akan selalu dalam kesulitan selamanya. Kamu bukan sahabat bagi dia. Mulai besok pagi, jangan lagi memberi contekan. Jadilah sahabat yang sebenarnya”
Dudung menghela napas. Entah kenapa tiba-tiba dia merasa sangat rindu pada kedua sahabatnya, padahal keduanya ada di dekatnya, di dalam ruangan kelas .***