PANGERAN KEPITING PUTIH
Di kerajaan Berantah ada seorang pangeran yang bernama Khairun. Khairun sangat tampan, kulitnya putih dan berhidung mancung. Namun, sayang sekali sifatnya pemalas, pemarah dan suka mengejek orang. Akibatnya para pelayan merasa takut dan segan jika bertemu pangeran. Tentu saja suasana di istana terasa tidak menyenangkan.
Raja dan permaisuri sering menasihatinya, namun pangeran belum juga berubah sikap. Bahkan Raja pernah mendatangkan seorang ahli untuk menasihati dan membimbing pangeran, namun belum juga membuahkan hasil.
Suatu hari pangeran pergi ke taman untuk memancing di kolam taman. Dua pelayan, Abid dan Sahaya, ditugaskan untuk menemaninya. Dengan segan mereka membuntuti pangeran membawa semua peralatan memancing. Pangeran lalu duduk di sebuah bangku di pinggir kolam.
“Abid … Lekas kemari! Mana pancingnya ….?” pinta sang pangeran.
“Ya Tuan, kami segera datang,” jawab Abid.
“Ayo cepat! Jalan kayak kepiting putih saja … Kapan bisa sampai?!” kata-kata kasar mulai keluar dari mulut sang pangeran.
“Silakan Tuan, sudah saya siapkan …” Abid menyerahkan pancingan.
“Sini! Dasar ‘Kepiting Putih’, selalu lamban! Mana umpannya?” tanya pangeran.
“Ampun Tuan, bukankah tadi Tuan yang bawa?” jawab Abid gemetar.
“O ya, tadi kutitipkan pada Sahaya. Hai ‘Tahi Ayam’ … sini kamu! Mana umpan yang tadi kutitipkan?” tanya pangeran.
Dengan membungkuk hormat Sahaya menyerahkan umpan untuk memancing. Sebenarnya Sahaya enggan berlaku hormat pada orang sekasar itu. Pangeran selalu memanggilnya ‘tahi ayam’, mungkin karena dulu Sahaya pernah cerita bahwa dirinya pernah bekerja di peternakan sebelum mengabdi di istana. Sebutan itu terasa menyakitkan.
Satu jam telah berlalu, namun pangeran belum juga mendapatkan ikan.
Di tembok pinggir kolam, di bawah bangku pangeran ternyata tinggal keluarga kepiting putih. Mereka terperangah mendengar nama mereka disebut-sebut.
“Hai dengar, kita dijadikan olokan atas manusia yang tidak cekatan,” kata seekor kepiting muda kepada teman-temannya, ”kita harus mengadakan perlawanan!”
Semua kepiting tertawa terbahak-bahak mendengar ajakan teman mudanya itu. Kepiting yang lebih tua lalu menjawab, “sejak dulu paman sering mendengar olokan itu, namun kami tidak dapat membalasnya.”
“Kita telah dibekali Tuhan dua tangan yang kuat dan tajam untuk membela diri. Bagaimana jika kita minta bantuan saudara-saudara yang lain, misalnya semut, kupu-kupu dan … tahi ayam?”
Sekali lagi kawanan kepiting itu tertawa terpingkal-pingkal.
“Mana mungkin tahi ayam bisa diajak melawan pangeran, berjalan saja tidak bisa?” sergah kepiting muda yang lain.
“Tapi kita harus memberi pelajaran! Sikap pangeran sudah keterlaluan. Jika dibiarkan bagaimana nasib generasi muda? Kerajaan ini bisa hancur dan kita pun akan kena akibatnya…”
Suasana jadi hening, tak seekor pun kepiting yang berbicara. Hanya suara ombak kecil yang memecah tepian kolam. Tiba-tiba muncul seekor paman kepiting yang lain dan melapor, “aku baru saja menasihati ikan-ikan agar tidak tergoda umpan, karena yang memancing adalah si pangeran jelek itu. Lalu bagaimana rencana kita selanjutnya kepiting muda?”
“Kita temui dulu sudara-saudara kita. Di teras istana semut hitam sedang bergotong-royong mengangkut makanan. Kupu-kupu juga banyak yang bermain di taman bunga. Saya kira mereka mau membantu kita,” jelas kepiting muda.
Keduanya pergi setelah pangeran dan kedua pelayan kembali ke istana. Semut hitam menyambut gembira rencana mereka, karena selama ini namanya pun dijadikan olokan pada Bi Yam, pelayan istana yang bertubuh kecil dan berkulit hitam. Sementara kupu-kupu pun siap mendukung. Setelah berbagi tugas, mereka berpisah hingga waktu yang telah dijanjikan.
“Idemu boleh juga, kepiting muda!” puji sang paman.
Tengah malam istana telah sepi. Raja dan permaisuri telah beristirahat. Demikian pula Pangeran Khairun, kamarnya tampak redup hanya diterangi sebatang lilin. Tiba-tiba seekor kupu-kupu menyambar lilin yang tengah menyala. Serta-merta kamar pangeran menjadi gelap gulita. Pangeran Khairun terbangun seketika. Ah, lilin sialan! gerutunya. Tangannya meraba-raba permukaan meja. Dia ingat tadi malam menyimpan korek api di sana. Terang saja, pangeran segera mendapatkannya. Tapi pangeran sedikit heran, kok ada benda lunak melekat di jari? Rasa penasaran mendorong ia mencium jari tangannya. Dan … Fuihh! Tahi ayam sialan! Siapa yang naruh tahi ayam di korek api? gerutunya lagi. Karena merasa jijik pangeran menjadi panik. Dengan bergegas ia menuju ruang makan untuk mencuci tangan. Dia ingat meja makan pasti belum dibersihkan para pelayan karena ia makan terlalu malam. Namun … Brak! Badan pangeran menabrak kursi kamar. Pangeran terjatuh dan mengerang kesakitan.
Dengan susah payah pangeran mendapatkan meja makan. Tangannya meraba-raba permukaan meja. Hatinya lega karena mangkuk cuci tangan masih ada. Dalam kegelapan dia masukkan tangannya untuk menghilangkan bau tak sedap itu. Namun ketika tangannya menyentuh air, KREK! KREK! Seperti ada yang menggigit begitu keras.
“Aduh, apa ini? Ampun … Sakit … Ampun … Tolong …,” pangeran terjatuh lagi.
Rintihan pangeran membangunkan seisi istana. Para pelayan segera memeriksa ruang makan sambil menyalakan lampu. Pangeran tersentak, dalam keremangan tampak dua ekor kepiting putih menjepit jari tangannya hingga berdarah.
“Ampun kepiting putih, ampun … Ampun semut hitam, ampun … Ampun tahi ayam, ampun …,” rintihan pangeran begitu memilukan.
“Hai, ‘Kepiting Putih’! ‘Tahi Ayam’! Pangeran minta ampun pada kita …,” kata Bi Yam, si ‘Semut Hitam’, membangunkan Abid dan Sahaya.
“Maafkan aku Abid, Sahaya … Bi Yam … Maafkan aku …” isak pangeran.
Sejak saat itu Pangeran Khairun menyesali kebiasaan buruknya. Pangeran menyadari kekeliruannya dalam memperlakukan para pelayan istana. Baginda Raja sangat bahagia. Sebagai rasa syukur, beliau menyebut putranya sebagai ‘Pangeran Kepiting Putih’. Segenap warga istana dan seluruh rakyat kerajaan Berantah menyambut gembira. Suasana di istana menjadi sangat menyenangkan. Bagaimana suasana di tembok pinggir kolam? Mereka sibuk menyambut kedatangan para pahlawan! (diceritakan oleh Suhara).
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar